in Bisnis, General

My Remote Working Journey

well, sebenernya ini adalah tulisan saya di medium pada tahun 2018 lalu yang saya backup karena akun mediumnya di-suspend gara-gara alasan yang gak masuk akal. Okay let’s tell you a journey about my remote working.

Saat ini saya bekerja di perusahaan Singapore dalam bidang nutrisi makanan sebagai part-timer freelancer, kenapa part-time ? karena saya hanya bekerja hanya 4 jam / hari, bebas atur waktu kerjanya kapan aja, dan kenapa freelancer? karena bos saya ingin memberi kebebasan lebih untuk saya untuk tidak terikat penuh dan bisa mengerjakan pekerjaan lain diluar kerjaan kantor. Bisa dibayangkan gimana nikmatnya kan, dulu waktu awal saya berkarir sebagai programmer pada tahun 2006, on site, kadang saya juga mengerjakan project sampingan dari teman saya, dan sering banget curi-curi waktu dikantor untuk mengerjakan project itu karena urgensi dari client yang tidak bisa ditunda, sampai-sampai takut banget kalau ketahuan sama bos, bisa-bisa kena SP atau bahkan di PHK paksa. Sekarang, bahkan saya menjalankan usaha jasa pembuatan website dengan nama Webhade Creative, dan alhamdulillah sudah ada tim yang bekerja secara fulltime, juga ada anak-anak PKL dari SMK…. And my boss doesn’t care at all about that.

2015, ya 3 tahun lalu, gak pernah terpikir dalam hidup saya sebelumnya bisa merasakan nikmat Allah yang sangat luar biasa bisa bekerja dengan gaji UMR Singapore dari rumah, ya di rumah gak perlu ngantor, gak perlu macet-macetan dijalan, bisa melihat anak-anak tumbuh besar, bisa membantu kebutuhan istri tiap hari, dan yang pasti kenikmatan beribadah kapanpun, karena tidak sedikit dari kita yang sulit mencari waktu untuk sekedar solat 5 menit ketika sedang bekerja.

Sebelum masa bahagia itu, ada masa terberat dalam hidup saya, mungkin begini cara Allah menguji kita, bersyukurlah untuk kalian yang sedang diuji oleh apapun, itu tandanya Allah sayang dan ingin kita naik kelas ke kehidupan yang lebih baik. Trust me.

2013 adalah masa terberat dalam hidup saya, sampai-sampai saya sempat berpikir untuk mengakhiri hidup saya saking beratnya tekanan hidup, tapi pikiran itu seketika hilang ketika melihat anak saya yang pertama yang baru berumur 1 tahun saat itu. Saat itu, saya baru saja diberhentikan dari pekerjaan saya karena performa saya yang terus menurun, mencoba melamar kesana-kemari tidak kunjung juga mendapat panggilan interview, mungkin karena ijazah saya yang hanya lulusan SMK. Tagihan demi tagihan menumpuk, debt collector bank entah sudah berapa kali datang ke rumah, namun saya tetap berpegang teguh pada Allah, Rasulullah, dan role model paling keren sedunia, Ayah saya. Saat itu mungkin saya merasakan apa yang ayah saya rasakan dahulu, sewaktu krisis moneter tahun 1998, diberhentikan secara paksa dari IPTN (sekarang PT. DI), lalu menjadi tukang ojek pangkalan di pasar lembang, yang selalu berangkat sebelum adzan subuh dan pulang siang hari untuk istirahat, lalu dilanjutkan ngojek lagi sampai malam hari, semua demi agar saya bisa tetap bisa sekolah, bisa tetap makan, bisa tetap ada ongkos dari Lembang ke Buah Batu setiap hari waktu saya duduk dibangku SMK.

Alhamdulillah, awal 2014, saya mendapat panggilan kerja di sebuah software house paling kece di Bandung yaitu PT WGS, kayaknya anak-anak IT Bandung mah kalau belum kerja disini belum dianggap anak IT ya, dan kocaknya rata-rata yang pernah kerja disini ketemunya malah setelah keluar dan pasti bilang “oh pernah kerja di wgs juga?” hehe. Disini, saya belajar banyak hal, dulu saya cuma mentok di PHP, MySQL, JavaScript, tapi disini saya dipaksa harus bisa Ruby on Rails, Swift, Android, atau bahasa pemrograman lainnya agar bisa bertahan hidup wkwk #kidding dikantor ini, saya kenalan lah dengan yang namanya oDesk (sekarang Upwork), tapi hanya sekedar mendengar cerita dari rekan kerja saja, gak ada pikiran sama sekali buat ambil kerjaan dari situ, maklum karena pengen fokus kerja hanya dikantor dan kalau dirumah pengennya maen sama anak-anak, bakal repot kalau ambil kerjaan dari oDesk dan gak bisa handle. Sekitar pertengahan tahun 2015, qodarulloh saya harus sakit dan tidak bisa berangkat ngantor lagi dan perusahaan tidak bisa mentolerir untuk bekerja dari rumah sehingga akhirnya saya diberhentikan secara sepihak. Disitu saya merasa sedih kembali, hutang-hutang belum lunas, saya sudah diuji lagi dengan sakit yang cukup parah. Akhirnya saya coba-coba browsing dan mencari pekerjaan online, saat itu saya bener-bener gak inget kalau ada oDesk, malah mencari pekerjaan di portal lowongan kerja seperti Karir, Jobstreet, Linkedin, dll

Saya coba apply semua lowongan-lowongan itu, entah berapa ratus itu iklan loker yang saya apply, pokoknya saya coba submit CV versi seadanya sejujurnya saya itu, sampai akhirnya saya mendapat email panggilan interview dalam bahasa inggris yang entah dari mana untuk posisi Senior Programmer. Dan bodohnya saya anggap itu email Spam, perlu 3 hari untuk saya baru ngeuh kalau itu adalah undangan interview kerja. Saya cek ternyata saya pernah submit CV di Linkedin untuk perusahaan itu, tapi kantornya di Jakarta dan nama perusahaannya aneh bukan PT tapi PTE.Ltd. Langsung saya googling nama perusahaan itu dan ternyata itu adalah startup bidang properti di Singapore. Saya pikir mungkin ini anak perusahaan yang di Indonesia makanya butuh orang indo. Gak pake lama, langsung saya balas emailnya pake bahasa inggris seadanya plus minta bantuan Google Translate, yang intinya saya siap diinterview pada jadwal yang sudah ditentukan oleh mereka via telp / skype.

Ketika hari H, bener-bener dag dig dug, gimana kalau saya gak paham mereka bilang apa, atau saya gak bisa ngomong pake bahasa inggris dengan bener (maklum bahasa inggris pas-pasan sampe sekarang hehe). Saya tunggu seharian itu gak ada telp / skype sama sekali, bener-bener hopeless, mungkin belum rezeki saya. Tapi besoknya ada email notifikasi kalau interviewnya di reschedule karena interviewernya lagi ada meeting, dan akhirnya dijadwalkan ulang keesokan harinya.

Ketika waktu interview pertama itu, saya agak kaget karena ekspetasi saya itu pasti ngobrol pake bahasa inggris, eh ini yang berbicara adalah seorang wanita memakai bahasa Indonesia yang cukup aneh terdengar ditelinga, wajar namanya juga bule. Disitu saya ditanya berbagai macam hal-hal umum seperti pengalaman kerja terakhir dimana dan sebagai apa, dan dilanjut dengan interview teknis oleh orang yang berbeda. Ketika interview teknis, yang berbicara adalah seorang laki-laki, dan dia menawarkan mau pakai bahasa Indonesia atau Inggris, saya jawab singkat dengan bahasa Inggris “it’s up to you, I can do both”. Dilanjutlah dengan pertanyaan-pertanyaan teknis seperti paling sering pakai bahasa pemrograman apa, database biasanya pakai apa, framework yang sudah dicoba apa saja, lalu diakhir saya ditanya mau digaji berapa. Saat itu saya gak muluk-muluk karena tahu ini pekerjaan onsite di Jakarta, bukan di Singapore, jadi sebelum interview saya sudah siapkan berapa rate gaji paling aman saya kalau harus tinggal di Jakarta.

Alhamdullilah, semua berjalan lancar dan benar-benar diluar apa yang saya takutkan, ternyata interview dengan bule itu gak seseram yang dibayangkan, poin pentingnya adalah kita paham mereka bilang apa, dan mereka juga paham apa yang kita ucapkan. Soal lancar tidak lancar itu juga mereka akan sangat mengerti karena kita ini bukan orang inggris yang udah jadi native speaker sejak lahir. 1 minggu sejak terakhir interview itu, saya mendapat kabar baik kalau saya diterima bekerja, Yay!!

Setelah mendapat email dan berdiskusi di Skype, dilanjutkan dengan negosiasi gaji dan hal teknis lain kalau nanti saya akan ditempatkan di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Mulai deh mikir gimana pindahan, kost dimana, dll. Saat mendapat task list pertama (via email) saya langsung bekerja dan posisi saat itu masih Work From Home (belum pindah ke Jakarta). 1 minggu berlalu, 2 minggu berlalu, 3 minggu berlalu, sampai akhirnya gajian pertama. Dan auto kaget, kok gaji yang saya terima 10x lipat dari yang dijanjikan waktu kontrak, serasa abis jatuh ketiban duit haha. Saya lalu konfirmasi ke bos takut ada kesalahan misal nolnya lebih satu gitu, tapi tiba-tiba bos minta untuk siapkan passport dan segala hal untuk pindah ke Singapore dan dia bilang nanti kita buat kontrak baru disana. Bener-bener cara Allah itu indah, bener-bener gak nyangka seperti itu jalannya.

Setelah pindah di Singapore, saya bekerja dengan small team campuran berbagai negara disana, ada orang Pakistan, Philippines, Rusia, Portugal, dan tentunya bos yang berasal dari Inggris. Betul-betul pengalaman yang gak terlupakan, saya yang cuma lulusan SMK bisa bekerja di negara sebesar Singapore, dengan berbagai orang dari belahan bumi dengan skill kece, kepribadian, adat dan istiadatnya masing-masing.

3 bulan sejak saya pindah ke Singapore berlalu, dan bodohnya saya, ya maklum lah anak kampung tiba-tiba hidup begitu, keasyikan jalan-jalan terus tiap malam sepulang kerja, namanya juga awal pindah ke negara orang, pasti pengen explore segala hal yang gak ada di negara sendiri, sampai akhirnya saya kurang istirahat, masuk angin, dan akhirnya penyakit bronchitis lama saya kumat, dan tentunya keluarga saya ingin saya kembali ke Bandung, dirawat disini. Setelah negosiasi dengan bos, akhirnya saya diperbolehkan pulang, tapi karena performa kerja saya bagus, saya dilarang resign, tidak masalah untuk Work From Home dan alhamdulillah tidak ada penyesuaian gaji sedikit pun. Jadi ketika kembali ke Indonesia, saya WFH dengan gaji fulltime Singapore sesuai kontrak diawal kerja.

Namun, kebahagiaan itu gak lama, pertengahan 2017 lalu, tiba-tiba saya mendapat kabar paling tidak enak didengar dari bos, “sorry Wisnu, I can’t pay you for next month, our investor stop investing suddenly”. Dan parahnya saat itu istri saya sedang hamil anak ke 3 kami dan estimasi kelahiran dibulan depan. Gimana gak pusing saya saat itu, tiba-tiba kehilangan pekerjaan secepat itu, dan tanpa persiapan sedikit pun. Tabungan hanya tersisa untuk survive selama 4 bulan saja, dan saya harus segera mendapat gantinya. Akhirnya saya memutar otak dan mulai mengembangkan bisnis sampingan yang saya jalani selama ini kearah yang lebih serius. Ya itu adalah titik awal Webhade Creative menjadi lini bisnis utama saya, saat itu saya mulai memikirkan bagaimana mendatangkan project / pekerjaan baru yang bisa saya handle sendiri dahulu, mulai personal branding dengan ikut aktif di komunitas-komunitas seperti PHP Indonesia, mengenalkan siapa saya, apa usaha saja, dll. Dan sampai akhirnya saya tahu ada komunitas Kami Kerja Remote di Facebook, dan mulai kenalan dengan Upwork yang ternyata itu adalah oDesk yang tahun 2014 saya cuma daftar akun lalu tinggalkan, andai dulu saya fokus ambil kerjaan di oDesk mungkin udah jadi top freelancer wkwk ya namanya juga hidup kita ga pernah tahu perjalanannya seperti apa.

Konyolnya sampai saat ini, saya gak pernah dapet kerjaan dari Upwork, alias belum pecah telor sama sekali, mungkin karena saya terlalu fokus dengan pekerjaan saya sekarang dan ngurus perusahaan sendiri, jadi gak ada waktu buat nge-freelance. Yang penting mah dapur tetap ngebul aja udah bersyukur gak muluk pengen ini itu, atau ngiri sama temen-temen freelance laen, karena saya yakin “ada pengorbanan besar untuk hasil yang besar”, ceuk uncle Ben mah kitu ceunah hehe. Nah, terus bagaimana nih cerita saya bisa dapat kerjaan part time freelancer yang sekarang? oke lanjut

Semua berawal dari sebuah email yang dikirim oleh co-founder kantor lama Singapore saya, ketika saya sedang survive sesurvive-survivenya setelah kelahiran anak saya yang ke 3 yang menginfokan ada project baru dan mengajak saya untuk terlibat diproject tersebut. Diskusi dilanjutkan melalui Skype conference dan disitulah awal dari pekerjaan saya saat ini.

Dan yang namanya project, yang pastinya project based, diawali dengan rekap requirement kebutuhan, kirim proposal penawaran, sampai akhirnya MOU dan Invoice down payment keluar. Alhamdulillah semua berjalan lancar, dan bos baru saya senang hasil pekerjaan karena lebih cepat dari timeline yang sudah disepakati. Dan lalu kontrak dilanjutkan dengan maintenance per bulan. Saya saat itu hanya meminta untuk jasa maintenance server & bug fixing saja, jadi ya nominalnya juga tidak besar, karena pekerjaannya juga sedikit. Yang penting ada buat beli pampers dan susu anak-anak saya yang masih kecil-kecil aja saya sudah senang sudah dapat income monthly, anggap aja gajian rutin. Seiring waktu berjalan, kebutuhan pengembangan project yang digarap makin kompleks, sampai akhirnya bos saya menawarkan bagaimana kalau saya dikontrak part-time saja. Tentu saja saya sangat senang, dan dia tidak mempermasalahkan untuk waktu kerja, yang penting project berjalan lancar, dan sepakat untuk bekerja 4 jam / hari sampai sekarang. Dan Alhamdulillah sampai saat ini semua berjalan lancar, bisnis bos saya lancar, pembayaran invoice tiap bulan juga lancar. Ketika ada masalah pun kami berdua selalu berdiskusi, sampai-sampai karena saking sudah dekat dan menganggap saya bukan sekedar partner bisnisnya, beliau tahu saya suka banget nonton film, dia kasih bonus akun Amazon Prime gratis, cuma ya harus pakai VPN nontonnya disini mah hehe.

Ya itulah pengalaman unik saya dalam mendapatkan remote work, hanya sekedar sharing dan mudah-mudahan tulisan saya bisa bermanfaat untuk siapapun diluar sana. Dan ingat, seberat apapun ujian yang sedang kalian hadapi, jalani dengan sabar & tawakal, kalau sudah hidup senang jangan lupa bersyukur, karena akan sangat mudah buat Allah membalikan keadaan dari yang susah jadi senang, dari yang senang jadi susah. Kun fa ya kun. Tetap berusaha semaksimal mungkin, karena Allah ingin lihat kamu dulu, serius engga buat dapetin yang kamu mau itu.

Terima kasih sudah membaca pengalaman saya yang mungkin lebih cocok disebut curhatan ini haha

Salam Remote Worker !!

Write a Comment

Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.